Minggu, 22 Maret 2009

MOTIF EKONOMI DIBALIK PONARI


Kecurigaan dan prasangka selalu muncul dibalik peristiwa. Inilah manusia selalu ada perbedaan dan sebagian perasaan tidak suka terhadap seseorang. Kehadirang Ponari yang begitu terkenal dengan kemampuan mengobati pasien telah menimbulkan berbagai kecuriagaan.

Desa Balongsari dusun Kedung sari selalu didatangi ribuan orang dalam sehari, diperkirakan menurut berita +5000, per hari. Makanya terjadi perubahan yang drastic di lokasi pengobatan. Masyarakat setempat yang sebagian besar buruh tani dan penambang pasir, mereka mulai berubah menjadi seorang pedagang, membuat warung-warung dan panitia pengobatan. Dengan upah bisa Rp. 50.000,- per hari ini dirasakan cukup memuaskan.

Ponari tetelah menjidi agen perubahan didesa tersebut. Kehadiran banyak orang telah mendatangkan incam yang tidak sedikit, diberitakan hamper Rp.50.000,- dalam sehari uang bisa terkumpul. Dari sumbangan orang yang berobat dan penjualan kupon antrian. Luar biasa memang Ponari dalam sekejap mata bisa menjadi Jutawan.

Kecurigaan lama kelamaan muncul adakah Motif ekonomi di balik pengobatan Ponari?

Prasangka ini sempat dibantah penguasa hukum Ponari, Ahmad Rifai, dia tidak mengetahuinya, terkait dengan uang yang dikumpulkan. Ini masalah kemanusiaan.

Awalnya memang masalah kemanusiaan namun bisa jadi sebagian orang memanfaatkannya sebagai motif ekonomi. Kenapa enggak dengan kondisi saat ini yang begitu sulit Ponari bisa dijadikan daya tarik bagi warga desa tersebut untuk memperoleh keuntungan yang besar. Bocah lugu ini tidak akan peduli yang penting dia bisa bermain sepuasnya dengan kesenangan hidupnya.

Ada sedikit eksploitasi mungkin itu yang dilihat sebagian orang, tapi kita harus membantunya dari sisi yang positif. Jangan sampai kita hanya senang melihat orang susah sementara ketika dia senang kita mulai gusar memepermaslahkan mereka. Seolah sangat peduli namun tidak menyelesaikan persoalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar